You are here: Home > Kabar Terkini > Dzikr Clothing di Lifestyle Expo 12-16 Mei 2010 (Sweet memory) "Nek mlaku ndelok ngisor"

DzikrClothing

DzikrClothing

Dzikr Clothing di Lifestyle Expo 12-16 Mei 2010 (Sweet memory) "Nek mlaku ndelok ngisor"

Bismillahir rahmaanir rahiim,

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

perempatan-tugu-jogja jaJogja, ya kota yang pernah menjadi ibukota Indonesia di masa penjajahan Belanda ini memang penuh histori. Diawali dengan perjanjian Gianti 13 Februari 1755  yang ditandatangani Kompeni Belanda di bawah tanda tangan Gubernur Nicholas Hartingh atas nama Gubernur Jendral Jacob Mossel. Isi Perjanjian Gianti : Negara Mataram dibagi dua : Setengah masih menjadi Hak Kerajaan Surakarta, setengah lagi menjadi Hak Pangeran Mangkubumi. Dalam perjanjian itu pula Pengeran Mangkubumi diakui menjadi Raja atas setengah daerah Pedalaman Kerajaan Jawa dengan Gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah...walah namanya panjang kayak sepur Purbaya dulu.

Akhirnya nama pertama kota ini adalah Negari Ngayogyakarta Hadiningrat diumumkan pada tanggal 13 Maret 1755. Jogja selalu membuat kangen menurut saya. Saat pertama kali ke Jogja di awal-awal kuliah di Surabaya, saya bersama teman kuliah waktu itu Junaedi Mulawardhana, Sasi, Ucis, Adi Anggara, Haris, Miko, Rony, Helmi dan lainnya. Saking sukanya dengan suasana kota ini, kami ke Jogja tiap minggu, berangkat Sabtu pagi dari Surabaya dan sampai di Jogja Lempuyangan sore sekitar pukul 16.00 WIB, tujuan nya tak lain dan tak bukan ialah Malioboro. Jalan legendaris yang menginspirasikan Kla Project dengan lagu abadi nya berjudul  Yogyakarta. Kami menuju kesana melewati kampung kecil di bantaran kali sambil ngamen. Ya ngamen...lagu andalannya Iwan Fals. Uangnya dipake makan sego kucing. Lesehan yang ada hampir di semua sudut kota, Nasi dengan sambel sedikit yang porsinya memang untuk porsi kucing. Padahal saya ngga yakin kucing di Jogja seneng nasi kucing hehe

Puas jalan-jalan di Malioboro biasanya kami ke alun-alun kraton, dimana ada 2 pohon beringin yang letaknya berdekatan yang konon mistis. Barangsiapa yang bisa jalan diantara celah beringin itu dengan mata tertutup maka akan dapat rejeki. Entah sugesti atau tidak, tak ada salah seorang pun dari kami yang bisa lewat di celah beringin itu, bahkan salah seorang teman terjatuh. hehe kapok koen!!

Tipikal orang Jogja yang sama dengan orang Jawa pada umumnya, yaitu ramah dengan tutur bahasa lembut membawa Jogja sebagai destinasi favorit orang Malaysia mengalahkan Bali. Padahal orang Jakarta weekend nya banyak yang ke KL atau Singapura. Gayus salah satunya, hihihi.

Saya punya kenangan tak terlupakan di Jogja, pada saat lagi belanja di Malioboro yang hari itu penuh sesak, bahkan sampai jalan pun ketutup orang, sedang enak jalan eh tiba-tiba....DUGG ...aduuuh lutut saya kok sakit ya, kayak ada yang mukul, reflek saya melihat ke bawah...apa itu?? Astaga seorang pengemis yang duduk di trotoar kakinya saya injak, ya pantas aja doi bales mukul, sambil matanya merah nahan amarah dan sakit, dia melotot pada saya, : " nek mlaku ndelok ngisor !! (kalau jalan liat bawah). hehehe antara ketawa nahan sakit dan geli saya minta maaf dan langsung lari, teman-teman pada ketawa semua. Gokil orang sakit diketawain. Dan dasar orang yang teraniaya dilindungi Allah, eh pas mau nyebrang saya malah mau nabrak kuda lengkap dengan delman nya...tambah sorak sorai teman-teman tertawa di belakang saya sementara saya hanya bisa misuh kecil dan ketawa sendiri. hehehe. Semoga Allah maafkan saya dan  memberi pengemis itu rumah yang indah di surga kelak. Amiin.

Pengalaman kedua punya teman juga, namanya Rony. Saat dia ingin membeli blangkon Jogja di Malioboro, dia ingin mendapatkan dengan harga murah blangkon yang ia taksir. Maka ia pun menyusun rencana dengan menawar memakai bahasa Jawa Kromo Inggil. Bertanyalah ia kepada seorang teman :" Seribu bahasa Jawa halusnya apa?". Jawab seorang teman :" Setunggal Ewu. kalo dua ribu Kalih Ewu....oke jawab Rony, maka dengan yakin ia menuju ke penjual blangkon yang seorang ibu setengah baya. Rony pun memulai pembicaraan dengan sang penjual. " Niki pinten bu?". Jawab sang penjual :" Sedoso mas". Rony bingung " sedoso apaan ya?" . Lama berpikir dan tak mau terlihat bukan orang Jawa, maka ia dengan asal menjawab dan menawar :" Setunggal ewu nggih ?"..Ibu penjual blangkon naik pitam, dan berujar : Mas, sampeyan nawar sewu ? iku cuma oleh pentol-e thok (mas nawar blangkon itu seribu, itu cuma dapat pentolnya saja.) hanya dapat bongkol blangkon nya saja. wahahahaha karuan saja Rony yang bahasa Jawanya masih kacau malu dan kaget. Dia minta maaf, sambil berlalu.. sambil bertanya kepada seorang teman : " kok marah tho?", ya iyalah masak 10 ribu ditawar seribu, wahaha cuma dapet bongkol blangkon nya saja, hahaha Rony menyadari kesalahan nya barulah ia ngakak wakaka. Apess !!.

malioboro-kini j

Diluar kejadian itu Jogja adalah kota yang ramah, dengan biaya hidup murah dimana dengan uang 500 perak, pada tahun 1990-an orang bisa makan nasi dengan sayur dan 1 lauk/ gorengan plus teh tawar. Jogja penuh kenangan dan inspirasi dengan kreativitas yang sama dengan orang Bandung. Membuat Jogja menjadi salah satu pusat industri kreatif anak muda Indonesia. Kota yang orang-orangnya saat bertanya selalu membungkukkan punggung nya dan menyapa dengan awalan : Nuwun sewu, Nggih, Monggo, Sugeng enjing, Sugeng sonten dan lainnya menjadikan mereka salah satu masyarakat paling ramah di kolong langit ini.

Dengan alasan itulah kami kembali ke Jogja, dalam pameran Jogja 3 Point nanti Dzikr Clothing akan ada di salah satu stand di Jogja Expo Center di jalan Janti Jogjakarta. Tanpa target muluk-muluk kami ingin memberi nuansa sendiri dalam clothing di Jogja, ada 3 hall di JEC yang akan dipakai : Hall A dengan Jogja Trade Investment and Tourism, Hall B dengan Lifestyle Expo dan Hall C dengan Getsell Expo. Bakal ada juga Kejurnas BMX Extreme di Hall C dari saudara komunitas BMX yang didukung Wimcycle. Ini adalah rangkaian pameran pertama kami tahun ini.

Dengan memori indah tentang Jogja kami berharap Jogja pun masih ramah pada kami selamanya, kota ini bagai kota kedua bagi kami. Jogja penuh kenangan, Jogja yang indah dan ramah dan Jogja yang penuh inspirasi.

Setelah pameran ini kami akan kembali lagi tahun ini, Insya Allah.

Wassalam,

hormat saya

 

Febby Dwiantara

(terimakasih untuk memori yang indah teman-teman Desain Grafis Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya : Edi, Sasi, Ucis, Adi, Haris, Rony, Miko, Helmi) I miss you guys !!

Last Updated ( Friday, 21 May 2010 11:58 )